Mengapa Masyarakat Indonesia Makin Banyak "Gagal Paham" Dan Beropini Tanpa Dasar?


Mengapa Masyarakat Indonesia Makin Banyak "Gagal Paham" Dan Beropini Tanpa Dasar?

Sebelumnya saya ingin menggarisbawahi dulu apa yang saya maksudkan dengan "gagal paham" dan beropini tanpa dasar. Mari kita memberi definisi satu demi satu terlebih dahulu mengapa lantas saya kemudian berpendapat sedemikian.

Dari segi bahasa, gagal paham (saya sengaja memberinya tanda petik karena ini merujuk pada konteks tertentu atau informasi tertentu yang tidak sepenuhnya dipahami oleh orang atau sekelompok orang tertentu) adalah suatu keadaan yang dipandang dalam dua sisi, yaitu :

Pertama dari sisi informasinya yang mana keabsahan suatu informasi yang didapatkan entah itu dari media atau secara verbal disampaikan oleh seseorang dan disaksikan atau didengarkan langsung masih diragukan karena seseorang yang menyampaikan informasi ini adalah bukan sumber primer. Seringkali kita tidak bisa membedakan yang mana fakta berdasarkan data dan yang mana opini yang di dasarkan pada analisa dari data. Dua hal ini tentu saja berbeda secara substansi. Perbedaan substansi ini ditambah lagi dengan stigmatisasi atau streotyping yang cenderung menghakimi sesuatu tanpa terlebih dahulu mengetahui informasinya akan menyebabkan "gagal paham". Di era media sosial yang masif ini, "gagal paham" yang awalnya hanya dialami oleh satu individu saja bisa menjadi pemahaman umum dan jika kejadian semacam ini berulang secara terus-menerus akan dianggap sebagai sebuah fakta kebenaran. Dampaknya, kita akan dengan mudah menaruh stigma dan kesan pada orang atau hal tertentu hanya berdasarkan informasi yang tidak valid semata. Pada bagian yang lain, ini dapat mengakibatkan merebaknya berita palsu atau berita bohong atau yang populer disebut hoax.

Yang kedua dari sisi behaviour masyarakat kita yang cenderung menyukai hal-hal super cepat dan instan. Tidak ada keinginan dan usaha untuk menggali dan menemukan sesuatu dari sumber aslinya. Keadaan ini juga semakin diperparah oleh minimnya literasi akibat rendahnya minat baca di kalangan masyarakat kita. Orang-orang memilih mengandalkan sumber-sumber yang hanya berasal dari internet seperti searching google daripada mencari sumber yang lebih kuat semisal buku, artikel atau jurnal yang merupakan hasil sebuah observasi yang tentu saja tingkat akurasinya lebih tinggi.

Pada akhirnya, output dari kondisi ini adalah masyarakat yang "gagal paham" dan mudah menyampaikan opini secara serampangan tanpa data. Belum lagi pembelahan akibat isu-isu primordial yang masih saja berlangsung entah itu akibat kontenstasi politik atau fanatisme identitas yang berlebihan makin menambah buruknya situasi. Kedepannya, masyarakat Indonesia harus diberikan pencerahan tentang pentingnya literasi dan pengetahuan. Sehingga dengan adanya keterbukaan dan saling memahami akan menyebabkan lebih banyak masyarakat yang bisa berpikiran terbuka, rasional dan mengutamakan akal sehat dalam beropini.

*===*


Kendari, 7 Juli 2022
Written by Ali Marwan
Founder, Positive Vibes91

Post a Comment

Sebelum kamu pergi

Kalau kamu suka dengan artikel ini, gunakan tombol-tombol share untuk membagikan artikel ini ke teman-teman kamu, dan daftarkan email kamu untuk mendapatkan update jika ada artikel baru. Terima Kasih.!

Lebih baru Lebih lama